Di Balik Kebiasaan Nimbun Foto dan Video di Ponsel
Pernah merasa sayang menghapus foto lama, tangkapan layar, chat, atau file digital yang sebenarnya sudah tidak lagi dibutuhkan? Kebiasaan yang tampak sepele itu ternyata dapat berkembang menjadi digital hoarding, yaitu perilaku menimbun data digital secara berlebihan hingga sulit menghapusnya.
Pakar psikologi konsumen sekaligus dosen di IPB University, Agung Minto Wahyu, mengatakan digital hoarding bukan sekadar persoalan banyaknya jumlah file yang tersimpan di perangkat. Menurut dia, persoalan utamanya justru berkaitan dengan hubungan psikologis seseorang terhadap data digital yang dimilikinya.
“Masalahnya bukan pada jumlah file yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kendali yang kita rasakan atas data digital kita sendiri,” kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (3/7/2026).
la menjelaskan bahwa pada dasarnya menyimpan file digital seperti foto keluarga, dokumentasi perjalanan, artikel yang ingin dibaca, atau dokumen pekerjaan, adalah hal wajar. Kondisi tersebut perlu diwaspadai ketika seseorang menyadari sebuah file sudah tidak berguna, namun tetap tidak sanggup menghapusnya.
Digital hoarding terjadi ketika seseorang terus-menerus menyimpan file digital hingga tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan. Akibatnya, alih-alih memberikan rasa aman, tumpukan data justru memunculkan stres dan perasaan kewalahan,” kata dia.
Agung mengatakan, ada sejumlah faktor psikologis yang membuat seseorang sulit menghapus data digital. Salah satunya adalah pola pikir “siapa tahu nanti akan berguna”. Pemikiran tersebut membuat seseorang memilih menyimpan hampir semua file, meskipun peluang untuk digunakan kembali sebenarnya sangat kecil.
elain itu, banyak file memiliki nilai emosional bagi pemiliknya. Foto-foto lama, percakapan dengan orang terdekat, rekaman suara, hingga video tertentu sering kali dianggap sebagai representasi kenangan, pengalaman hidup, maupun identitas diri. Alhasil, menghapus file tersebut terasa seperti kehilangan sebagian dari memori atau pengalaman yang pernah dimiliki.
“Proses menyortir ribuan file juga membutuhkan energi mental yang besar sehingga sering ditunda. Ditambah lagi, layanan penyimpanan digital yang semakin murah menciptakan ilusi ruang tanpa batas sehingga tidak ada dorongan untuk segera membersihkan data,” kata Agung.
Dia menjelaskan, digital hoarding berkaitan erat dengan kecemasan (anxiety), fear of missing out (FOMO), serta kebutuhan untuk merasa aman melalui kepemilikan informasi. “Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus,” kata dia.
Selain berdampak pada kesehatan mental, digital hoarding juga dapat menurunkan produktivitas. Tumpukan data yang tidak terorganisasi membuat seseorang menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari file yang dibutuhkan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko information overload, yaitu ketika terlalu banyak informasi justru menyulitkan seseorang menentukan mana yang benar-benar relevan.
Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, Agung menyarankan agar masyarakat mulai membangun membangun kesadaran mengenai alasan menyimpan suatu file. Luangkan waktu sekitar 10-15 menit setiap pekan guna menyortir data, membuat kriteria sederhana sebelum menyimpan file, serta belajar membedakan antara kenangan yang benar-benar bermakna dan file yang hanya tersimpan karena rasa cemas.
“Kekuatan sebuah kenangan tidak ditentukan oleh apakah file-nya masih ada di ponsel kita atau tidak. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan informasi digital kita tahu apa yang kita simpan, mengapa kita menyimpannya, dan berani melepaskan apa yang sudah tidak lagi kita butuhkan,” kata dia.
Sumber: republika.co.id
Tim Editorial BAIT
Berkomitmen menghadirkan informasi transformasi digital terkini untuk membantu UMKM dan perusahaan naik kelas melalui teknologi.
Satelit Starlink Meledak, Mendadak Hilang Kontak
Microchip; Komponen Mungil yang Berperan Besar dalam Revolusi Industri
Permisi iPhone-Xiaomi, Raja Smartphone Mau Lewat
Butuh Website Profesional?
Transformasikan bisnis Anda ke dunia digital bersama tim ahli BAIT.
Konsultasi GratisSpace Iklan 300x250
Trending Tech
Transformasi Sekarang!
Butuh konsultasi sistem IT atau pembuatan website profesional untuk bisnis Anda?
Hubungi BAIT DigitalBanner Iklan Vertical